Bali, IMNUSANTARA.com - Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya dan bersinar. Pesan tersebut dihadirkan melalui film Terangku Dalam Gelapku, sebuah karya inklusif dari Bali yang mengangkat perjuangan, persahabatan, dan potensi anak-anak penyandang disabilitas di tengah minimnya ruang kesetaraan.Mengusung tema keberagaman dan kemanusiaan, film ini tidak sekadar menyajikan kisah di layar, tetapi juga mengajak publik mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas. Melalui cerita anak-anak tunarungu, tunadaksa, tunanetra, dan penyandang disabilitas lainnya, Terangku Dalam Gelapku menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkarya serta mendapatkan tempat di tengah masyarakat.Salah satu sosok yang menjadi bagian dari film tersebut adalah Ni Putu Sri Widia Meganatasya, atau akrab disapa Tasya. Remaja berbakat yang telah hidup sebagai penyandang disabilitas sejak kecil itu tetap aktif mengembangkan potensi di bidang seni, termasuk tari, modeling, dan akting.Putri pasangan I Made Sukanaya dan Ni Luh Ketut Nina Handayani Puspasari tersebut telah menekuni dunia seni sejak usia dini. Kiprahnya tercatat dalam berbagai kegiatan fashion dan kompetisi seni, baik di Bali, Jakarta, maupun sejumlah kota besar di Indonesia.Selain aktif berkarya di dunia hiburan, Tasya juga berupaya menjaga keseimbangan antara pendidikan dan aktivitas seninya. Ia mengikuti berbagai kegiatan serta perlombaan di sekolah, sembari menjalani proses syuting dan pengembangan karier.“Saya sangat menyukai dunia seni mulai dari menari, modeling, hingga akting. Di sekolah tetap jalan, kegiatan syuting juga berjalan lancar,” ujar Tasya saat menceritakan pengalamannya sebagai mana dilansir delapanpluscom, Minggu (20/09/2026).Ketika dipercaya menjadi salah satu pemeran dalam film Terangku Dalam Gelapku, Tasya mengaku tidak merasa minder. Kepercayaan diri dan sikapnya di depan kamera justru menjadi bagian penting dalam proses produksi film tersebut.Film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Ni Pande Putu Rahayu Mustika Dewi, yang dikenal dengan sapaan Mimi Jegon. Ia mengatakan, proses produksi dilakukan dengan pendekatan yang menitikberatkan pada ketulusan, kesabaran, dan perhatian terhadap kebutuhan para pemain.“Film ini sangat dekat dengan perasaan kita. Kita harus menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Proses pengarahannya membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra selama dua bulan produksi karena fokus utama kita adalah menyoroti potensi dan ketulusan mereka,” ungkap Mimi Jegon.Menurutnya, proses produksi tidak hanya berfokus pada hasil visual, tetapi juga memastikan para pemain merasa nyaman selama berada di lokasi syuting. Sutradara turut memberikan pendampingan, melakukan coaching, serta membantu mengatur wardrobe para pemain.Skenario film disusun secara intensif menjelang proses syuting, sementara lagu untuk soundtrack diciptakan langsung oleh sang sutradara. Seluruh proses tersebut dilakukan dengan melibatkan perhatian terhadap detail dan kebutuhan para pemain.Pengambilan gambar berlangsung selama dua bulan di sejumlah lokasi di Bali, antara lain Jimbaran, Denpasar, dan Gianyar. Suasana kekeluargaan yang dibangun selama produksi menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran proses penggarapan film.Kehadiran Terangku Dalam Gelapku menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya perfilman yang mengangkat isu inklusivitas. Film ini mengajak masyarakat melihat penyandang disabilitas melalui perspektif yang lebih luas, bukan semata-mata berdasarkan keterbatasan fisik, melainkan juga potensi, kemampuan, dan kontribusi mereka.Kisah Tasya bersama para pemain dan kru film menunjukkan pentingnya membuka ruang yang setara dalam dunia seni. Dengan kesempatan dan dukungan yang tepat, setiap individu memiliki peluang untuk berkarya, berprestasi, dan memberikan inspirasi bagi masyarakat.Melalui film Terangku Dalam Gelapku, pesan tentang keberagaman dan kesetaraan disampaikan bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan untuk tampil, berkembang, dan menunjukkan potensi terbaiknya.
https://imnusantara.com/berita/baca/2026/09/20/film-terangku-dalam-gelapku-angkat-kisah-inklusivitas-talenta-tasya-jadi-sorotan