Jayapura, Papua Pegunungan — Manajemen markas pusat komando nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyampaikan pernyataan resmi mengenai insiden serangan udara di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada Senin (6/10/2025). Dalam siaran pers yang dibagikan oleh juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, pihaknya mengklaim bahwa militer Indonesia menggunakan dua pesawat tempur Tucano asal Brasil untuk melakukan serangan udara di kawasan tersebut.“Pada saat melakukan pertempuran melawan pasukan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel, militer Indonesia menggunakan dua unit pesawat tempur Tucano asal Brazil melakukan serangan udara membombardir kawasan pemukiman warga sipil, hutan-hutan, kuburan dan markas TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel di Kiwirok,” tulis TPNPB dalam pernyataan yang diterima media, Kamis (9/10/2025).TPNPB menambahkan bahwa serangan tersebut mengakibatkan kerusakan besar di pemukiman warga sipil, sementara di markas TPNPB tidak terdapat korban jiwa. “Serangan bom dan rentetan tembakan dari pesawat Tempur Tucano mengakibatkan hancurnya pemukiman warga sipil, sementara serangan bom yang dilakukan terhadap pasukan TPNPB di markasnya tidak ada korban jiwa,” lanjut pernyataan itu.[*** prajurit-tni-letda-fauzy-gugur-ditembak-opm-di-pegunungan-bintang ***]Menurut TPNPB, serangan udara di Kiwirok ini merupakan kali kedua yang terjadi setelah insiden serupa pada tahun 2021. Ketika itu, militer Indonesia disebut telah melancarkan serangan menggunakan bom mortir yang dibeli dari Serbia. Serangan tersebut mengakibatkan hancurnya rumah-rumah warga, sekolah, dan bangunan sipil. “Serangan udara pada waktu itu menyasar di pemukiman warga hingga mengakibatkan korban bagi warga sipil,” jelasnya.Dalam siaran pers tersebut, TPNPB juga menyinggung laporan dari media Australia, The Saturday Paper, yang diterbitkan pada 22 Desember 2018. Laporan itu menuding bahwa militer Indonesia menggunakan senjata kimia jenis fosfor putih di Nduga selama operasi militer yang menewaskan sejumlah warga sipil akibat luka bakar.TPNPB menyebut penggunaan senjata berat yang dibeli dari berbagai negara seperti Brasil, Serbia, Inggris, Spanyol, dan Australia sudah lama digunakan militer Indonesia dalam operasi di Papua. “Sejak tahun 2024, militer Indonesia melakukan serangan bom roket di Intan Jaya menggunakan pesawat CASA buatan Spanyol yang dibeli pemerintah Indonesia,” tulis pernyataan itu.[*** perusahaan-kakak-erick-thohir-diduga-diuntungkan-rp168-miliar-dari-kasus-korupsi-pertamina ***]Dijelaskan pula bahwa pesawat tersebut ditempatkan di Timika di bawah komando Pangkogabwilhan III, yang menjalankan operasi udara, darat, dan laut untuk mengamankan wilayah, termasuk menghadapi pasukan TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan (Kodap).“Kami juga memberitahukan kepada semua pihak bahwa seluruh alutsista perang yang dibeli dari luar negeri oleh pemerintah Indonesia melalui Menteri Pertahanan dan Keamanan RI kebanyakan telah digunakan oleh militer Indonesia selama melakukan misi operasi dan perang melawan pasukan TPNPB di wilayah-wilayah konflik bersenjata di Tanah Papua,” tulis TPNPB.Dalam penutupnya, TPNPB menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto mematuhi hukum humaniter internasional dalam mengerahkan pasukan ke Papua. Mereka juga meminta pemerintah Indonesia untuk membekali personel militer dengan pemahaman mengenai hukum dan hak asasi manusia (HAM), guna membedakan warga sipil dari anggota TPNPB. Hal ini diharapkan dapat mencegah terjadinya penangkapan, penyiksaan, penembakan, dan pembunuhan terhadap warga sipil di wilayah konflik.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/10/13/tpnpb-klaim-terjadi-serangan-udara-di-kiwirok-oleh-militer-indonesia