Im Nusantara – China bersiap menggelar parade militer berskala besar pada Rabu (3/9/2025) di Beijing. Acara ini diproyeksikan menjadi ajang unjuk kekuatan sekaligus memperingati 80 tahun penyerahan resmi Jepang pada akhir Perang Dunia II.Parade tersebut akan melibatkan lebih dari 10.000 tentara, 100 pesawat tempur, serta ratusan tank dan kendaraan lapis baja. Selain untuk mengenang sejarah, acara ini juga menampilkan kemajuan teknologi militer terbaru yang belum pernah dipamerkan sebelumnya.Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dipastikan hadir atas undangan Presiden China Xi Jinping. Menurut analisis ABC News, kehadiran keduanya di Beijing akan menjadi pencapaian diplomatik besar bagi Xi Jinping. “China mengadakan acara peringatan ini untuk mengenang sejarah, menghormati para martir, menghargai perdamaian, dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.Sebaliknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak termasuk dalam daftar undangan. Absennya pemimpin AS ini menimbulkan sorotan, terlebih tidak ada juga pemimpin dari Eropa Barat yang diperkirakan hadir. Hanya Perdana Menteri Slovakia Robert Fico yang tercatat hadir, sementara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memilih absen meski mantan PM Australia, Bob Carr dan Dan Andrews, dijadwalkan hadir.ABC News menilai kondisi ini memperlihatkan sinyal kuat terbentuknya poros kekuatan baru di luar Barat. Xi Jinping menunjukkan pengaruh diplomatiknya dengan hadirnya Putin dan Kim Jong Un, sementara Trump terlihat semakin terpojok.Hubungan erat Xi dan Putin diperkirakan akan semakin diperkuat melalui kunjungan ini. Putin pernah menyebut Xi sebagai “sahabatnya”. Kehadiran Kim Jong Un pun dinilai bersejarah karena jarang melakukan kunjungan luar negeri, apalagi dalam forum diplomatik multinasional besar.Sebelum parade militer, China menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) pada Minggu (31/8/2025) dan Senin (1/9/2025). SCO yang didirikan China dan Rusia pada 2001 berfokus pada isu keamanan regional Asia Tengah.KTT SCO dihadiri Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Mesir Mustafa Madbouly. Selain itu hadir pula perwakilan dari sekitar 20 negara lain termasuk Indonesia, Laos, Malaysia, dan Vietnam.[*** anggota-dpr-melchias-markus-mekeng-ditegur-diaspora-indonesia-di-australia-saat-situasi-politik-memanas ***]Namun tidak semua peserta KTT menghadiri parade. India, Mesir, dan Turki memilih meninggalkan Beijing lebih awal, dengan Mesir hanya mengutus pejabat tingkat rendah.Sejumlah pemimpin lain yang diperkirakan hadir antara lain pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, serta perwakilan dari Republik Demokratik Kongo dan Zimbabwe.Menurut portal resmi Pemerintah China, sebanyak 26 pemimpin negara asing akan hadir dalam parade Hari Kemenangan tersebut. Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, sebab Presiden Prabowo Subianto memutuskan tidak hadir. “Bapak Presiden ingin terus memantau perkembangan kondisi dalam negeri secara langsung dan memimpin upaya penyelesaian terbaik,” ujar Mensesneg Prasetyo Hadi, dikutip dari setneg.go.id.Dengan absennya Trump dan pemimpin Barat, parade militer ini dipandang sebagai panggung besar China dalam memperlihatkan kekuatan militer sekaligus posisi strategisnya dalam percaturan diplomasi global.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/09/01/parade-militer-besar-china-sorotan-dunia-tanpa-kehadiran-donald-trump