Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyampaikan penyesalan sekaligus permintaan maaf karena telah mengundang akademikus asal Amerika Serikat, Peter Berkowitz, dalam acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) Pascasarjana Universitas Indonesia di Balairung UI, Depok, pada Sabtu (23 Agustus 2025). Kehadiran Berkowitz menuai kontroversi setelah publik menyoroti rekam jejaknya yang dikenal sebagai pendukung Zionisme.“Semua orang jadi repot. Semua orang jadi repot. Gara-gara saya tidak teliti itu,” ujar Yahya dalam wawancara bersama Tempo pada Selasa (26 Agustus 2025).Ia mengakui keliru karena hanya melihat latar belakang akademis Berkowitz sebagai profesor hukum di Stanford dan mantan pejabat di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. “Saya mohon maaf sekali kepada masyarakat bahwa saya membuat keputusan tanpa pertimbangan yang teliti dan lengkap. Karena saya tidak ngeh tentang track record dia sebagai Zionis,” katanya.Yahya menuturkan, ketertarikannya pada Berkowitz muncul karena sang profesor pernah terlibat dalam pengembangan wacana hak asasi manusia di Komisi Hak-Hak yang Tidak Bisa Dicabut atau Commission of Unalienable Rights. “Itu yang membuat saya tertarik. Saya sama sekali tidak perhatikan betul urusan dia sebagai Zionis,” ungkapnya.Lebih lanjut, Yahya menegaskan bahwa undangan kepada Berkowitz merupakan inisiatif pribadi, bukan berasal dari pihak Universitas Indonesia. Ia juga menyampaikan permintaan maaf langsung kepada Rektor UI. “Saya sudah hubungi rektor, saya minta maaf, karena tidak tahu track record soal Zionis itu. Rektornya juga merasa kecolongan karena tidak tahu,” ucap Yahya.Ia menambahkan, dirinya baru mengetahui keterkaitan Berkowitz dengan Zionisme setelah muncul gelombang protes usai acara di UI berlangsung. “Setelah acara UI kemudian ramai, baru saya tahu, baru ngeh,” ujarnya.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/08/28/gus-yahya-minta-maaf-usai-undang-akademikus-pro-zionis-ke-acara-pascasarjana-ui