Di Indonesia, ikan nila kerap menjadi pilihan utama sebagai lauk—digoreng, dibakar, hingga disajikan bersama pecel lele. Namun, situasi berbeda terjadi di Jepang. Di Negeri Sakura, ikan nila justru dibiarkan hidup bebas di sungai-sungai kota dan nyaris tidak disentuh masyarakat.Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ikan nila bukan spesies asli Jepang. Mereka pertama kali masuk pada 1960-an melalui proyek percobaan, lalu berkembang biak secara pesat. Sayangnya, pertumbuhan yang tak terkendali membuat nila dikategorikan sebagai spesies invasif yang berpotensi merusak ekosistem perairan lokal.[*** kementerian-perindustrian-resmikan-penutupan-pabrik-sanken-karyawan-jalani-perpisahan-mengharukan ***]Selain itu, faktor budaya juga berperan besar. Masyarakat Jepang secara umum tidak terbiasa mengonsumsi ikan air tawar. Preferensi mereka cenderung pada ikan laut yang dinilai lebih bersih dan memenuhi standar kuliner tradisional Jepang. Ikan nila, yang sering hidup di perairan keruh atau berlumpur, dianggap kurang higienis dan tidak menarik secara rasa maupun tekstur.Akibatnya, meski jumlahnya melimpah, ikan nila tidak memiliki nilai jual di Jepang. Alih-alih dibudidayakan atau dikonsumsi, ikan ini justru dianggap hama perairan yang mengganggu.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/07/23/ikan-nila-jadi-hama-di-jepang-padahal-jadi-primadona-di-meja-makan-indonesia