Banjir besar yang melanda enam kecamatan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada awal Juli ini mengejutkan banyak pihak, mengingat saat ini wilayah tersebut tengah berada dalam musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun merilis hasil analisis penyebab banjir tersebut.Menurut BMKG, banjir di Mataram ini dipicu oleh kombinasi lima faktor utama. Pertama, adanya aktivitas gelombang atmosfer frekuensi rendah yang memicu pembentukan awan hujan secara lokal. Kedua, tingkat kelembaban udara yang tinggi pada lapisan atmosfer 850 hingga 700 mb, mencapai 70% hingga 90%, meningkatkan potensi hujan lebat. Ketiga, labilitas atmosfer yang kuat di kawasan tersebut, yang mendukung terbentuknya awan konvektif penyebab hujan deras. Keempat, hasil pantauan radar cuaca menunjukkan adanya reflektivitas di atas 30 dBZ di wilayah Mataram dan Lombok Barat, yang mengindikasikan hujan intensitas tinggi.Faktor kelima yang memperparah banjir adalah gelombang pasang atau banjir rob akibat fase bulan besar. Kondisi tersebut menyebabkan air laut pasang tinggi, sehingga aliran air sungai ke laut tertahan dan mengakibatkan genangan meluas di permukiman warga.Dampak banjir ini cukup besar. Sedikitnya 30 ribu jiwa atau sekitar 6.700 kepala keluarga terdampak, dengan satu korban jiwa akibat tersengat listrik. Selain itu, arus air tersendat karena banyak saluran tersumbat sampah dan kendaraan, sehingga memperlambat surutnya genangan.Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menyebut kejadian ini sebagai anomali cuaca yang langka, apalagi terjadi di tengah musim kemarau. Ia menegaskan perlunya perbaikan sistem drainase, pengelolaan sungai, serta kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, mengingat potensi hujan deras disertai gelombang tinggi masih bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah juga telah menetapkan status tanggap darurat dan mendirikan posko bantuan serta dapur umum untuk warga terdampak.Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, meskipun sedang musim kemarau.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/07/09/bmkg-ungkap-penyebab-banjir-mataram-di-musim-kemarau-kombinasi-cuaca-ekstrem-dan-gelombang-pasang