Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel menimbulkan ancaman serius bagi rantai pasok energi global, termasuk Indonesia. Wacana penutupan Selat Hormuz—jalur krusial yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia—diperkirakan akan berdampak langsung pada naiknya biaya logistik dan beban subsidi energi nasional.Ketua Umum Aspebindo, Anggawira, menyatakan bahwa Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dan LPG, terutama dari kawasan Teluk. Penutupan selat tersebut dinilai bisa menyebabkan keterlambatan distribusi, lonjakan harga minyak global, dan meningkatnya beban fiskal negara.Sejalan dengan itu, Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak dunia melampaui 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini akan langsung mempengaruhi biaya produksi BBM dalam negeri. Bila harga tidak disesuaikan, subsidi energi dari APBN akan membengkak, mempersempit ruang fiskal pemerintah.Dengan kondisi tersebut, Indonesia menghadapi tekanan serius dalam menjaga stabilitas harga energi dan menjaga keseimbangan fiskal, jika konflik di Timur Tengah terus memanas dan Selat Hormuz benar-benar diblokade.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/06/23/ancaman-blokade-selat-hormuz-ancam-stabilitas-energi-dan-fiskal-indonesia