Pada Selasa malam, 3 Juni 2025, ratusan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) berkumpul di Bundaran Kampus dengan mengenakan pakaian hitam. Mereka menyalakan seribu lilin dan menaburkan bunga sebagai simbol cahaya dan penghormatan untuk Pratama Wijaya Kusuma—mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang tewas diduga akibat kekerasan saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) pada November 2024 di Gunung Betung, Pesawaran.Aksi yang dipimpin Koordinator Zidan Al Zakri ini tidak hanya mengenang, tetapi juga menuntut keadilan. Zidan menjelaskan bahwa lilin menunjukkan “cahaya kecil yang bertahan”—menggambarkan harapan mahasiswa bahwa keadilan bagi Pratama tetap menyala di tengah kegelapan . Peserta membawa spanduk bertuliskan “Justice for Pratama” dan berdoa bersama, seraya mengingat bahwa pengusutan kasus ini belum menunjukkan kemajuan signifikan meski sudah 40 hari pasca-kepergian Pratama .Mahasiswa juga menyampaikan tuntutan agar Universitas dan Polda Lampung bekerja cepat dan transparan menindak pelaku kekerasan—termasuk ormawa yang diduga terlibat—serta menetapkan sanksi tegas bagi mereka yang bertanggung jawab. Seperti diungkap Zidan, mereka mendesak agar Ormawa Mahepel dibekukan atau bahkan dibubarkan jika ditemukan unsur pelanggaran HAM .Rektorat Unila dan Polda Lampung mengaku telah membentuk tim investigasi. Namun, mahasiswa menilai proses yang berlangsung masih lambat dan minim transparansi. Mereka berjanji akan terus mengawal kasus ini hingga kejelasan diperoleh dan keadilan ditegakkan untuk Pratama.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/06/19/mahasiswa-unila-bergerak-1000-lilin-dan-doa-untuk-pratama