Dalam sebuah episode program televisi "Boys Don't Cry", Verrell Bramasta bersama dua rekannya, Enrique Dustin dan Austin Alexander, mengunjungi kawasan kumuh di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Tujuan mereka adalah membantu seorang kakek yang sehari-hari memungut buah-buahan sisa dari tempat pembuangan sampah untuk dijual kembali. Namun, kunjungan tersebut menuai kontroversi. Verrell terlihat menunjukkan ekspresi jijik dan mual saat berada di lokasi, bahkan beberapa kali tampak hampir muntah. Reaksi ini memicu kritik dari warganet yang menilai sikapnya tidak menghargai kehidupan orang-orang kecil dan kurang sensitif terhadap kondisi mereka. Menanggapi kritik tersebut, ibunda Verrell, Venna Melinda, memberikan klarifikasi. Ia menyatakan bahwa reaksi Verrell adalah spontan dan tidak bermaksud merendahkan siapa pun. Venna juga menambahkan bahwa seharusnya Verrell mengenakan masker saat berada di lokasi untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat bau menyengat. Meskipun demikian, Verrell dan rekan-rekannya tetap melanjutkan kegiatan mereka dengan membantu sang kakek mengumpulkan dan menjual buah-buahan sisa tersebut. Aksi ini menunjukkan niat baik mereka untuk memahami dan membantu kehidupan masyarakat yang kurang beruntung, meskipun diwarnai dengan ketidaknyamanan pribadi. Kontroversi ini menyoroti pentingnya empati dan sensitivitas sosial, terutama bagi publik figur. Reaksi spontan seperti yang ditunjukkan Verrell dapat dengan cepat menjadi sorotan publik dan menimbulkan interpretasi negatif, meskipun niat awalnya adalah untuk membantu.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/05/19/potret-verrell-bramasta-sambangi-area-pembuangan-sampah-tuai-hujatan-karena-terang-terangan-tunjukkan-ekspresi-jijik---disebut-tak-hargai-orang-kecil