Kebakaran hutan besar-besaran melanda wilayah barat Yerusalem sejak 30 April 2025, memaksa Israel menyatakan status darurat nasional dan meminta bantuan internasional untuk mengendalikan bencana yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah negara tersebut. Dampak dan Respons DaruratLebih dari 6.000 hektare lahan terbakar, mencakup hutan dan lahan pertanian, serta menyebabkan evakuasi lebih dari 10.000 penduduk dari sekitar 10 komunitas, termasuk Neve Shalom, Mevo Horon, dan Mishmar Ayalon. Jalan tol utama yang menghubungkan Yerusalem dan Tel Aviv sempat ditutup, dan ratusan kendaraan ditinggalkan karena asap tebal yang membahayakan pengemudi. Setidaknya 45 orang mengalami luka-luka akibat kebakaran ini, termasuk 17 petugas pemadam kebakaran dan beberapa warga sipil, di antaranya dua ibu hamil dan dua bayi. Lebih dari 160 tim pemadam kebakaran, 12 pesawat, dan unit militer dikerahkan untuk memadamkan api. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menggunakan pesawat Hercules dan helikopter untuk menjatuhkan bahan pemadam kebakaran dari udara, sementara unit intelijen memetakan titik-titik api menggunakan teknologi satelit dan udara. Bantuan Internasional dan InvestigasiIsrael menghubungi lebih dari selusin negara untuk meminta bantuan. Italia, Kroasia, Spanyol, Prancis, Rumania, Ukraina, dan Siprus telah mengirimkan pesawat pemadam kebakaran. Palestinian Authority juga menawarkan bantuan, namun belum ada tanggapan resmi dari Israel. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kondisi cuaca ekstrem, termasuk suhu tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang, memperparah penyebaran api. Namun, dugaan pembakaran juga muncul setelah 18 orang ditangkap karena dicurigai melakukan pembakaran, termasuk seorang warga yang tertangkap mencoba membakar ladang. Dampak Sosial dan PolitikKebakaran ini terjadi bertepatan dengan Hari Peringatan Nasional dan menjelang Hari Kemerdekaan Israel ke-77, menyebabkan pembatalan berbagai acara nasional, termasuk upacara penyalaan obor di Gunung Herzl. Presiden Isaac Herzog mengaitkan bencana ini dengan krisis iklim global, menyerukan persatuan nasional dan tindakan legislatif untuk mengatasi perubahan iklim. Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menuduh bahwa kebakaran ini adalah hasil pembakaran yang disengaja oleh warga Palestina, meskipun belum ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Situasi TerkiniHingga 2 Mei 2025, sebagian besar titik api telah berhasil dikendalikan, dan jalan-jalan utama kembali dibuka. Namun, otoritas tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya titik api baru akibat kondisi cuaca yang masih kering dan berangin. Masyarakat diimbau untuk menghindari area hutan dan taman hingga situasi benar-benar aman. Kebakaran ini menjadi pengingat akan meningkatnya risiko bencana alam akibat perubahan iklim dan pentingnya kesiapsiagaan serta kerja sama internasional dalam menghadapi situasi darurat semacam ini.
https://imnusantara.com/berita/baca/2025/05/02/israel-dilanda-kebakaran-hutan-terbesar-minta-bantuan-internasional