Tagline.Id, Solo – Indonesia menjadi negara ketiga di dunia dengan tingkat fatherless tertinggi. Topik ini ramai dibicarakan di media sosial, menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga untuk tumbuh kembang anak.Istilah "fatherless" berarti tanpa ayah, yaitu absennya peran ayah dalam pengasuhan anak. Di berbagai belahan dunia, banyak anak yang secara biologis masih memiliki ayah, namun tidak merasakan kehadirannya secara fisik maupun psikologis. Menurut riset global oleh US Census Bureau pada 2022, 1 dari 4 anak di dunia kehilangan peran ayah dalam proses tumbuh kembangnya. Fenomena ini banyak terjadi di negara-negara besar seperti Inggris, Portugal, Afrika, Amerika, dan Australia, sehingga menjadi permasalahan global.Di negara-negara Barat, fatherless cenderung terjadi karena pasangan yang tidak menikah sehingga peran merawat anak otomatis dilakukan oleh ibu. Namun, di Indonesia, fenomena fatherless disebabkan oleh hilangnya peran ayah dalam pengasuhan anak karena ayah menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.Faktor utama penyebab fenomena fatherless di Indonesia adalah alasan ekonomi, sosial, dan budaya. Ketika seorang ayah harus mencari nafkah, mereka seringkali tidak memiliki waktu untuk mengurus anak di rumah. Padahal, peran ayah sangat penting dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.Selain itu, rendahnya pengetahuan orangtua, khususnya ayah, dalam mengasuh anak juga menjadi faktor. Berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2015, hanya 27,9% ayah yang mencari informasi tentang mengasuh anak sebelum menikah, dan hanya 38,9% yang mencari informasi setelah menikah.Budaya Patriarki di IndonesiaBudaya patriarki yang masih kuat di Indonesia juga menjadi penyebab terjadinya fatherless. Budaya ini meyakini bahwa laki-laki bertanggung jawab pada urusan nafkah, sementara urusan domestik dan mengurus anak adalah tanggung jawab perempuan. Selain itu, angka perceraian di Indonesia yang masih tinggi juga berdampak pada meningkatnya jumlah anak yang kehilangan sosok ayah. Menurut laporan Statistik Indonesia, kasus perceraian mencapai 516.334 pada 2022, dengan penyebab utama perselisihan dan pertengkaran sebanyak 284.169 kasus atau 63,41%.Dampak Fatherless pada AnakKehilangan sosok ayah dapat berdampak jangka panjang pada anak, terutama secara psikologis. Beberapa dampaknya antara lain:•Rendahnya self-esteem, yakni pandangan subjektif seseorang tentang diri sendiri secara keseluruhan.•Perasaan marah dan minder•Kecemasan dan ketidakbahagiaan•Ketidakamanan fisik dan emosional•Kemampuan akademik yang buruk•Hubungan rumit dengan pasangan•Masalah perilaku hingga gangguan kejiwaan•Potensi melakukan kejahatan atau kenakalan remajaPeran Penting Ayah dalam KeluargaPeran ayah sangat penting dalam keluarga. Ayah yang aktif berperan akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Peran ayah dibagi menjadi tiga komponen: paternal engagement, aksesibilitas, dan tanggung jawab. Menurut survei dari Association of Child Psychotherapy, ayah memberikan kontribusi vital bagi perkembangan emosional anak dibandingkan ibu, dengan cara interaksi yang lebih komunikatif dan penggunaan kosakata yang beragam.Beberapa peran penting ayah dalam mendampingi perkembangan anak antara lain:•Mengajarkan anak memecahkan masalah dengan solusi yang tepat•Menanamkan nilai-nilai penting sebagai bekal masa depan•Menjadi teman bermain bagi anak•Membimbing anak membedakan perilaku benar dan salah serta memahami konsekuensinya•Mengajarkan tanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan keluarga•Menanamkan moral dan tata krama agar anak bertindak bijakDengan memahami dan melibatkan diri lebih dalam, ayah dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi perkembangan anak, baik secara emosional, sosial, maupun intelektual.-ANO
https://imnusantara.com/berita/baca/2024/10/07/indonesia-peringkat-3-fatherless-country-di-dunia-simak-pentingnya-sosok-ayah-untuk-perkembangan-anak